Cerita Bunda

Coretan Bunda Mengisi Waktu Luang

Penanganan Diare pada Balita

Baju Muslim Anak Lucu
Bookmark this on Hatena Bookmark
Hatena Bookmark - Penanganan Diare pada Balita
Share on Facebook
Post to Google Buzz
Bookmark this on Yahoo Bookmark
Bookmark this on Livedoor Clip
Share on FriendFeed
Penanganan Diare pada BalitaCerita Bunda

diare balitaSebetulnya udah lamaaa banget pengen share tentang Penanganan Diare pada Balita ini, tapi baru ada waktunya sekarang. Jadi.. mari kita mulai..

Ini sebetulnya pengalaman pribadi. Jadi ceritanya, awalnya pada hari kamis siang di bulan Januari (lupa tanggal persisnya) Alfath (1y4m) masih baik-baik saja. Nah, waktu malamnya berbarengan dengan ada acara pengajian Yasin di rumah Bunda, tiba-tiba Alfath mencret. Tapi, Bunda tidak curiga apa-apa.

Hari Jum’at, pagi-pagi sekali Alfath sudah BAB encer, lalu muntah, 2 jam berikutnya mulai BAB encer lagi, saat itulah Bunda mulai waspada. Sepertinya Alfath ada indikasi Diare. Betul saja, tidak berselang lama kemudian, keluar lagi BAB encernya. Bunda perhatiin, tidak ada darah, tidak ada lendir, berarti aman. Insya Allah cuma infeksi rotavirus. Infeksi Virus sesungguhnya tidak perlu tindakan medis seperti antibiotik atau obat pemampat. Yang harus dilakukan adalah terus mengganti cairan yang keluar dan meningkatkan kekebalan tubuh, sampai si virus keluar dari tubuh. Maka tindakan pertama kali yang Bunda lakukan adalah:

  1. Terus memberi Alfath air putih dan ASI yang banyak.
  2. Biasanya, saat sedang diare, balita suka susah makan, tapi kita tetap harus memberinya makan, sedikit-sedikit tapi sering.
  3. Makanan yang diberikan haruslah rendah serat, atau tidak berserat sama sekali. Buat makanan yang tidak memperberat kerja usus, misal bubur nasi + telur untuk sumber protein.
  4. Jangan pernah pakaikan diapers saat anak sedang diare. Kadang sebagai orang tua sering mencari praktisnya saja. Daripada repot mencuci bekas-bekas pup balita, lebih baik dipakaikan diapers. Namun sesungguhnya, hal ini tidak baik. Karena kita tidak bisa mengecek seberapa sering anak kita BAB, juga kita tida bisa mengecek berapa kali anak kitas sudah pipis. Karena pipis adalah indikasi dehidrasi juga. Jika anak BAB encer terus tapi sudah tidak pipis, maka kita harus mengecek tanda-tanda dehidrasi yang lain. Biasanya Bunda pakaikan celana dobel.
  5. Jangan lupa berikan larutan oralit. Jika tidak tersedia di rumah, cobalah buat dengan cara melarutkan gula 2 sendok kecil dan garam 1 sendok kecil ke dalam 1 gelas air, diminumkan sedikit demi sedikit. Atau kuah sayur pun boleh.
  6. Terus periksa tanda-tanda dehidrasi. Tanda-tada dehidrasi sebgai berikut: jika pipisnya sudah berkurang, sedikit, bahkan tidak sama sekali; jika kulit tampak kering, jika dicubit maka hanya bagian kulit yang tertarik; saat menangis tidak keluar air mata; badan anak lemas mata cekung; tidak berkeringat meskipun terlihat gerah. Jika tanda-tanda dehidrasi terlihat, jangan tunggu lagi, segera bawa anak ke rumah sakit untuk menerima infus.

Nah, sepanjang hari Jum’at itu, Alfath BAB sampai 7 kali. Tapi Bunda periksa, Alfath masih ceria, masih mau makan dan minum meski sedikit sedikit dan masih pipis, jadi Bunda tidak khawatir.

Hari Sabtu, jam 4 pagi Alfath bangun lalu BAB, masih encer. Jam 6 BAB encer lagi. Jam 7 dan jam setengah 9 BAB encer lagi. Masih mau makan dan minum, tapi Bunda sudah mulai khawatir karena frekuensi BAB nya meningkat, tapi kok belum pipis. Jam 10 Bunda bawa ke Bidan, periksa.. bukan untuk meminta obat, tapi hanya butuh opini dari tenaga medis jika Alfath masih baik-baik saja, belum dehidrasi. Kata Bu Bidan, Alfath masih oke, ngga ada dehidrasi. Seperti kebiasaan tenaga medis lain, Bu Bidan memberikan antibiotika dan obat diare (dari kaolin, pektin) untuk Alfath. Sampe rumah, Bunda Cuma simpen aja.. hehe.. bukan apa-apa… kadang Bidan juga ngga ngerti, bahwa Bunda bukan jenis orang tua yang ke dokter minta obat, Bunda ke dokter untuk periksa kesehatan dan meminta pendapat jika anak masih baik-baik saja.

Siang nya, Alfath sama nenek kakeknya malah pergi jalan-jalan ke KCP. Di KCP Bunda lihat Toko Obat Century, jadi keingetan beli Lacto B. Lacto B ngga ada,  akhirnya beli L Bio. Lacto B dan L Bio ini sejenis probiotik atau kumpulan bakteri baik yang bisa mengalahkan bakteri-bakteri jahat di dalam usus. Sesungguhnya, penggunaan probiotik untuk penderita diare lebih baik dibandingkan obat-obata pemampat. Probiotik bekerja dengan memaksimalkan bakteri baik sehingga mengusir bakteri/ virus jahat. Sedangkan obat pemampat hanya mengeraskan feses tanpa mengeluarkan racun atau penyebabnya.

Akhir kata, Bunda memberikan L Bio itu sama Alfath. 2 sachet pertama, alhamdulillah frekuensi BAB nya berkurang. Di sore itu, Alfath hanya 2 kali BAB. Besoknya, Hari Minggu, Alfath BAB 4 kali, hari Senin nya, Alfath BAB 2 kali, hari Selasa dan seterusnya, alhamdulillah normal.

Bunda senennnneeeeng banget, seneng karena Alfath sembuh, juga seneng karena berhasil menerapkan pengobatan rasional untuk Alfath.

Horeee…. ^__^

Incoming search terms:

Bosan dengan model busana muslim yang biasa? Temukan Busana Muslim unik dan elegan di www.butikaini.com
posted by nuren in Parenting and have No Comments

No comments

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Isian wajib ditandai *

Anda dapat memakai tag dan atribut HTML ini: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>


SEO Powered By SEOPressor