Cerita Bunda

Coretan Bunda Mengisi Waktu Luang

Archive for the 'Parenting' Category

The Way I Will Teach You

Baju Muslim Anak Lucu
azka dan al-fatih

anak bunda yang manis, cantik, dan ganteng

Since a mother is the first madrosah in children’s life, ini adalah cara-cara bunda mendidik anak bunda….

1. bunda ngga akan berbohong sama kalian dg harapan kelak kalian pun tak akan berbohong pada bunda. bunda ngga akan mengiming-imingi kalian untuk berbuat sesuatu jika bunda tidak melaksanakannya. jika bunda bilang, kalo kalian berhasil seminggu pipis di kamar mandi akhir minggu bunda beliin es krim, maka itu kenyataannya.

2. bunda ngga akan nakut2in kalian dengan harapan kalian jadi orang yg rasional dan pemberani. bunda ngga bakal nakut2i kalian dg cerita orang gila biar kalian mau masuk rumah. ngga akan nakut2i kalian dg cerita ini itu biar kalian mau bobo.

3. apa yg bunda ajarkan sebisa mungkin rasional tapi bisa diterima oleh kalian. bunda ajarkan bahwa “semua ada waktunya”. makan ada wktunya, main ada waktunya, nonton film ada waktunya, dan tidur pun ada waktunya.

4. kalian boleh marah, boleh nangis tetapi dilarang anarkis. luapkan emosi dalam bentuk kata-kata. kalau marah bilang marah, kalau cemburu bilang cemburu. tapi jangan main pukul atau melempar sesuatu. jika anak lain memukulmu, jangan dibalas, tapi bilang dan nasihati kalo itu tidak baik. tetap boleh marah, tapi tidak anarkis.

5. bunda ngga akan menyalahkan tembok, lantai, kursi, atau benda apapun yg membuat kalian jatuh. itu hanyalah benda mati, tidak bisa disalahkan.kalianlah yang harus lebih hati-hati. semoga dg seperti itu, kalian menjadi anak yang tidak mudah menyalahkan orang lain atas suatu kesalahan.

6. bunda ingin kalian tetap memelihara bahasa daerah bunda dan ayah. tong hilap kana bahasa sunda karo boso jowo… jangan punahkan bahasa kita.

7. bunda akan ajarkan kalian untuk fokus pada usaha, tidak pada hasil. apapun prestasi akademi kalian nanti, buat bunda selalu nilai 10 jika kalian berusaha maksimal.

8. bunda akan mengajarkan kalian apapun yang bunda bisa. bermain sepeda, berpetualang, pelajaran sekolah,sholat, berdo’a, mengaji, main gitar, main piano, berdagang, kecuali berenang dan main layangan. kalo itu, bunda juga ngga bisa.

Bunda berharap kalian menjadi generasi rabbani yang sholih/sholihah, cerdas, tangkas, dan memiliki empati yang tinggi. Hope that the way i teach you will works for ur future. aamiin…

#bunda masih belajar untuk mendidik anak dan mengenal kalian. Semoga setiap harinya bunda semakin lebih baik dalam mendidik kalian. u’re the pearls of my heart… *kiss*Kiss*

 

 

Bosan dengan model busana muslim yang biasa? Temukan Busana Muslim unik dan elegan di www.butikaini.com
posted by nuren in Parenting and have No Comments

Dino Dan

Baju Muslim Anak Lucu

dino

Setiap pagi sebelum sekolah, Saya menyuapi Azka sarapan sambil menonton film anak-anak kesayangannya. Jadilah Saya penggemar film anak-anak tersebut :D . Di antara rangkaian film yang disukainya, yaitu Postman Pat, Marsupilami, dan Dino Dan, Saya paling tertarik dengan DinoDan.

Dino Dan, tayang di B Channel pukul 07.00 pagi, bercerita tentang seorang anak laki-laki bernama Dan berusia sekitar 1o tahunan, bercita-cita menjadi ahli paleontologi, memiliki adik laki-laki berusia kurang lebih 7 tahunan, dibesarkan oleh seorang ibu yang berprofesi sebagai polisi, dan memiliki ketertarikan luar biasa terhadap dinosaurus. Ketertarikannya tersebut sangat besar, sehingga ia dijuluki teman-temannya Dino Dan, hampir di setiap harinya Dan berimajinasi mengenai Dinosaurus yang berlalu lalang di sekitarnya.

Yang membuat Saya tertarik terhadap serial ini tentu bukan Dinosaurus-dinosaurusnya. :D . Meski tidak dipungkiri, banyak pengetahuan tentang dinosaurus yang bisa diperoleh dari film ini, mungkin juga merupakan salah satu tujuan dibuatnya film Dino Dan. Yang membuat Saya tertarik, adalah sikap orang-orang di sekitarnya terhadap Dan yang memiliki obsesi di luar kebiasaan tersebut. Sikap ibunya, adiknya, teman-temannya, pamannya, bahkan guru-gurunya. Lingkungannya ini tidak menganggap aneh Dan, bahkan mungkin mendukung dan ikut membesarkan lahirnya seorang paleontolog.

Dan selalu bercerita mengenai Tyranosaurus Rex, Stegosaurus, dan dinosaurus-dinosaurus di sekitarnya, dan orang-orang di sekitarnya selalu mendengarkannya, bahkan jika Dan melakukan eksperimen mengenai dinosaurus-dinosaurus imajinasinya, mereka turut membantu dan bertanya apa yang bisa mereka lakukan untuk membantu eksperimen Dan tersebut.

Ini mengingatkan Saya, betapa seorang anak bisa terlahir istimewa dengan bakat-bakat di luar kebiasaan. Mengingatkan Saya untuk selalu mendengarkan dan memberi dukungan pada ketertarikan anak dan untuk tidak pernah mencemooh dan menyepelekan imajinasi anak yang mungkin di luar pikiran kita.

Bisa jadi seorang anak terlahir dengan bakat besar, tapi karena lingkungan yang menyepelekan dan tidak mendukung, akhirnya bakat itu terpendam selamanya. Dan anak yang mungkin bermanfaat untuk dunia pun hilang. (lebay bahasanya.. :p).

Bosan dengan model busana muslim yang biasa? Temukan Busana Muslim unik dan elegan di www.butikaini.com
posted by nuren in Parenting,Tak Berkategori and have No Comments

A, B, C

Baju Muslim Anak Lucu

balitaSudah beberapa minggu ini, Azka mendapatkan PR (Pekerjaan Rumah) dari sekolahnya. Memang tiap 1 minggu sekali sih. Tapi itu cukup membuat saya keberatan juga. Karena Saya tetap tidak mengharapkan ada PR untuk anak seusia Azka. PR kadang malah membuat hubungan ibu-anak tidak harmonis. Karena kerapkali sang Ibu menuntut kesempurnaan si anak dalam membuat PR agar mendapat nilai bagus, sementara kemampuan si anak belum sampai pada tahap seperti itu. Jadilah biasanya dalam membuat PR, jika si Ibu kurang sabar, akan ada teriakan-teriakan dan gumanan ketidakpuasan.

PR Azka minggu pertama hanya menulis angka 1, lalu meningkat, dan setelah bersekolah selama kurang lebih 2 bulan, sekarang Azka menulis PR ba-bi-bu-be-bo. Untuk anak seusia itu, ternyata memang membutuhkan usaha keras bagi dia untuk menyelesaikan ba-bi-bu-be-bo itu sampai nomor 5. Saya tidak pernah mendiktenya begini begitu, biar dia mengerjakan PR sesuai versinya. Jika huruf yang ditulis ibu guru ada 5, maka Azka akan menambahkannya sampai 8 atau 9. Sesukanya dia. Saya tidak ingin PR menjadi sesuatu hal yang menakutkan untuk dia. Jika tidak memiliki kemampuan untuk mengubah sistem pendidikan tanpa PR, maka biarkan dia menikmati PR tersebut.

Dalam setiap PR Azka, gurunya selalu memberikan penilaian A atau B. Saya sengaja tidak pernah memberitahu Azka apa arti A atau B tersebut. Untuk anak seusia Azka yang setiap harinya sudah bersemangat sekolah saja, saya beri nilai A plus untuk setiap pekerjaan yang telah dia buat. Tidak ada seorangpun yang berhak menilai hasil karya seorang anak. Apalagi seusia balita. Dalam setiap hasil karya dia, baik itu coret-coretan, gunting-guntingan, gundukan tanah, selalu berikan pujian yang tulus. Karena tersimpan usaha yang besar dari mereka untuk melakukan hal itu.

Saya ingin Azka terbiasa tidak melihat nilai-nilai tersebut selama dia berusaha yang terbaik. Agar ke depannya, tidak ada pembatas dalam pikiran dia, tidak ada kekhawatiran, tidak ada ketakutan akan nilai buruk selama dia berusaha yang terbaik. Yang harus ditakutkan hanyalah nilai buruk di depan Allah. Sehingga, mudah-mudahan Azka ke depannya menjadi insan mandiri yang lebih ekspresif, tidak takut gagal dalam mencoba, lebih berani menantang resiko-resiko. Hanya do’a seorang ibu.. :)

 

Sebetulnya sistem pendidikan dengan mematok nilai pada hasil karya anak sudah jadul. Silahkan baca artikel karya Pak Rhenal Kasali disini mengenai nilai dan pendidikan anak. Di situ tersirat, bahwa penilaian seharusnya bukanlah pada hasil akhir, tapi pada usaha atau prosesnya

 

Bosan dengan model busana muslim yang biasa? Temukan Busana Muslim unik dan elegan di www.butikaini.com
posted by nuren in Parenting and have No Comments

My Little Girl has Grown Up

Baju Muslim Anak Lucu

azka rahma syahidahThis is about my little girl, Azka. Sehe just past her 4th birthday on this 15 December. Since i think that she don’t know anything, i was suprised by her smooth question asking anything out of my prediction.

Someday, when she took a pee in the bathroom, suddenly she asked “Bunda, how can the drink water become a pee?”. i was shocked by her question. On that time she still 3,5 years old. i was confuse how to anwer, but last i told her scientistly that in our body there is some machine call digestion which digest everything we eat or drink.Even she seem not really understand, but i always try to answer each of her question rationally, with a simple analogy of course.

Other, i think that Azka is a very unique little girl with a very unique personality. She has a hard willing, so we can take her over one problem to another easier solution. Hard Head. Sometimes i call her like that. hehe… Well, it doesn’t wise at all. I have to stop using that call for her. hmmm… being my priority i guess.. :D

But u know what? Even she had a hard had, her heart is very soft. Her empathy to her brother, her love to me, her dad, and her brother is wide spread. She never doing something bad, or violence to her brother actually accidentally.

Well, even sometimes i become a mother Gothel for her, because of her acts. Sometimes i out of control, and sorry at the end. But i always remember not to use my hand to hurt her. She is my pearl of heart. My little angel. And at the end of the day, watching her sleep, i always whisper to her softly, “Thank you for all of your patients to me today, dear… I’m and always trying to be a better mom everyday.” #kiss

Bosan dengan model busana muslim yang biasa? Temukan Busana Muslim unik dan elegan di www.butikaini.com
posted by nuren in Parenting and have No Comments

Calistung untuk Balita, Perlukah?

Baju Muslim Anak Lucu

Dua hari yang lalu, ketika menjemput Azka, Bunda tiba-tiba disodori buku membaca suku kata oleh Ibu Guru nya.

“Bu, maaf.. Sekarang ada pelajaran membaca. Tadi Azka harus ngulang bagian ini karena belum bisa. Huruf-hurufnya sih udah hapal, tapi menyusun suku kata nya belum bisa”. terang ibu guru panjang lebar.

Bunda sebetulnya terkesiap. Karena setahu Bunda, TK A pada tahun sebelumnya di situ belum diajari membaca. Dengan alasan itu Bunda memasukkan Azka ke TK tersebut. Karena, Bunda ingin mempraktekkan cara pendidikan di Finlandia yang baru diajari calistung secara intens diusia 7 tahun.

Dengan alasan sopan santun, Bunda tersenyum mengiyakan.

Bunda di rumah memandang prihatin kepada Azka. Padahal seumuran Azka ini, Bunda dulu belum belajar apa-apa. Belum bisa apa-apa. Dan belum dituntut apa-apa.

Katanya usia 3-5 tahun adalah usia Golden Age, dimana anak harus memiliki kecerdasan-kecerdasan tertentu yang berguna di masa depan. Tapi, menurut Bunda pribadi, berdasarkan yang Bunda baca juga, Bukan kecerdasan logis seperti calistung yang harus diutamakan untuk anak usia 3-5 tahun tersebut. tetapi, justeru kecerdasan emosional dan religi yang harus ditanamkan. Ajak dia mengenal Tuhannya dengan cara mengenal alam, bagaimana tanaman tumbuh, mengajari sopan santun, bersikap pada orang tua dan yang lebih muda, cara menyayangi, cara meluapkan kemarahan. Mengajarkan mereka kegiatan yang menyenangkan seperti melukis (bermain dengan cat air), membuat prakarya (bermain gunting dan lem), bermain alat musik, dan lain-lain. Sekolah seperti itulah yang Bunda harapkan untuk anak-anak Bunda.

Bunda berani bertaruh, untuk masalah calistung, seorang anak hanya perlu diajari selama 3 bulan, tidak perlu diajari dari usia 3 tahun. Apa gunanya? Mereka belum dituntut untuk suatu kegiatana yang perlu perhitunga dan membaca. Mereka hanya perlu muse (kesenangan) yang positif. Jika sudah waktunya, otak mereka akan siap menerimanya.

Selain itu, menurut penelitian, pembelajaran calistung terlalu dini akan mengakibatkan mental hectic pada anak di kemudian hari. Mental hectic jika diartikan secara bebas adalah kekacauan/keributan mental yang bisa mengakibatkan pemberontakan. Silahkan googling untuk lebih jelasnya.

Intinya, menurut Bunda, biarkan anak belajar secara alami menurut tingkat kematangannya. Tidak perlu dipaksa, Jika dia bertanya, maka jawablah, tapi tidak dengan sengaja mendudukkan anak, menyodorkan buku, dan mendiktenya. Kadang tidak habis pikir, kenapa orang tua ingin cepat-ceat anaknya bisa calistung. Untuk kebanggaan kah? Bahkan di komplek kami, TK yang lebih banyak bebannya malah semakin favorit. Ya ampun…

Ini hanya tulisan seorang Bunda yang prihatin dengan pendidikan usia dini.

Bosan dengan model busana muslim yang biasa? Temukan Busana Muslim unik dan elegan di www.butikaini.com
posted by nuren in Parenting and have No Comments

Jangan Berikan Anak Anda Motor!

Baju Muslim Anak Lucu

motorSepertinya judulnya radikal ya? hehe.. sebetulnya, lengkapnya seperti ini. Jangan Berikan Anak Anda yang Berumur di Bawah 17 Tahun Motor!

Awalnya prihatin aja. Ada kejadian waktu Bunda beli tempe mendoan untuk si Ayah. Selagi Bunda menunggu tempe mendoan itu digoreng, sambil menikmati lalu lalang sepeda motor, sepeda, dan orang-prang di sekita kompleks. Tiba-tiba datang sepeda motor yang dikendarai bocah, Bunda taksir usianya baru 9-10 tahunan. Sepeda motor itu tanpa tedeng aling-aling menabrak sepeda yang dikendarai 2 bocah kecil berboncengan usia 6-7 tahunan. Dan yang Bunda lihat, memang anak kecil bermotor itu yang salah, menyerempet sepeda yang mau belok kiri. Bocah bersepeda itu jatuh, tapi si anak yang menyerempet cuma bengong. Melihat sebentar, tanpa menolong lalu berlalu begitu saja. Seorang Bapak dan Bunda tergopoh-gopoh menghampiri bocah bersepeda itu yang sepertinya hendak bersekolah, dan lututnya lecet.

Peringatan untuk orang tua! Sepeda motor itu bukan sepeda gowes!

Tentu saja tidak sama. Sepeda motor itu adlah kendaraan bermotor, dimana pemerintah sudah menetapkan bahwa setiap pengendara kendaraan bermotor harus sudah memiliki Surat Izin Mengemudi. Tentu itu atas dasar riset. Bukan hanya atas dasar bisa saja, lalu anak diberikan sepeda motor. Psikologi Anak di bawah 17 tahun belum mampu untuk membawa kendaraan bermotor. Kendaraan bermotor harus mengikuti rambu-rambu. Ngga cukup asal jalan saja, asal belok saja. Ada lampu sein yang harus dipergunakan, ada aturan jalan, ada aturan berhenti. Tidak seenak udel nya.

Bunda sebetulnya tidak menyalahkan bocah bermotor tersebut. Tapi gemes lebih kepada orang tuanya. Apa orang tuanya tidak khawatir jika anaknya diberikan sepeda motor sebelum waktunya. Mereka bisa celaka karena mereka belum matang. Belum mengerti. Jika tiba-tiba mereka belok kanan tanpa memberikan sein, sementara ada orang mau menyalip, bukankah itu sangat membahayakan. Jangan merasa bangga dulu jika anak sudah bisa mengendarai kendaraan bermotor, itu sama sekali bukan hal yang membanggakan dan patut dipamerkan. Harap bersabar sampai mereka mampu secara psikologis.

Begitu ya, yah.. bun…

Jika Anak Anda meminta, berikan pengertian bahwa mengendarai kendaraan bermotor bukan asal bisa saja. tapi memang harus mengerti rambu, oleh karena itu ada SIM.

Semoga tulisan ini bermanfaat untuk ayah bunda.

 

Incoming search terms:

Bosan dengan model busana muslim yang biasa? Temukan Busana Muslim unik dan elegan di www.butikaini.com
posted by nuren in Parenting and have No Comments

Penanganan Diare pada Balita

Baju Muslim Anak Lucu

diare balitaSebetulnya udah lamaaa banget pengen share tentang Penanganan Diare pada Balita ini, tapi baru ada waktunya sekarang. Jadi.. mari kita mulai..

Ini sebetulnya pengalaman pribadi. Jadi ceritanya, awalnya pada hari kamis siang di bulan Januari (lupa tanggal persisnya) Alfath (1y4m) masih baik-baik saja. Nah, waktu malamnya berbarengan dengan ada acara pengajian Yasin di rumah Bunda, tiba-tiba Alfath mencret. Tapi, Bunda tidak curiga apa-apa.

Hari Jum’at, pagi-pagi sekali Alfath sudah BAB encer, lalu muntah, 2 jam berikutnya mulai BAB encer lagi, saat itulah Bunda mulai waspada. Sepertinya Alfath ada indikasi Diare. Betul saja, tidak berselang lama kemudian, keluar lagi BAB encernya. Bunda perhatiin, tidak ada darah, tidak ada lendir, berarti aman. Insya Allah cuma infeksi rotavirus. Infeksi Virus sesungguhnya tidak perlu tindakan medis seperti antibiotik atau obat pemampat. Yang harus dilakukan adalah terus mengganti cairan yang keluar dan meningkatkan kekebalan tubuh, sampai si virus keluar dari tubuh. Maka tindakan pertama kali yang Bunda lakukan adalah:

  1. Terus memberi Alfath air putih dan ASI yang banyak.
  2. Biasanya, saat sedang diare, balita suka susah makan, tapi kita tetap harus memberinya makan, sedikit-sedikit tapi sering.
  3. Makanan yang diberikan haruslah rendah serat, atau tidak berserat sama sekali. Buat makanan yang tidak memperberat kerja usus, misal bubur nasi + telur untuk sumber protein.
  4. Jangan pernah pakaikan diapers saat anak sedang diare. Kadang sebagai orang tua sering mencari praktisnya saja. Daripada repot mencuci bekas-bekas pup balita, lebih baik dipakaikan diapers. Namun sesungguhnya, hal ini tidak baik. Karena kita tidak bisa mengecek seberapa sering anak kita BAB, juga kita tida bisa mengecek berapa kali anak kitas sudah pipis. Karena pipis adalah indikasi dehidrasi juga. Jika anak BAB encer terus tapi sudah tidak pipis, maka kita harus mengecek tanda-tanda dehidrasi yang lain. Biasanya Bunda pakaikan celana dobel.
  5. Jangan lupa berikan larutan oralit. Jika tidak tersedia di rumah, cobalah buat dengan cara melarutkan gula 2 sendok kecil dan garam 1 sendok kecil ke dalam 1 gelas air, diminumkan sedikit demi sedikit. Atau kuah sayur pun boleh.
  6. Terus periksa tanda-tanda dehidrasi. Tanda-tada dehidrasi sebgai berikut: jika pipisnya sudah berkurang, sedikit, bahkan tidak sama sekali; jika kulit tampak kering, jika dicubit maka hanya bagian kulit yang tertarik; saat menangis tidak keluar air mata; badan anak lemas mata cekung; tidak berkeringat meskipun terlihat gerah. Jika tanda-tanda dehidrasi terlihat, jangan tunggu lagi, segera bawa anak ke rumah sakit untuk menerima infus.

Nah, sepanjang hari Jum’at itu, Alfath BAB sampai 7 kali. Tapi Bunda periksa, Alfath masih ceria, masih mau makan dan minum meski sedikit sedikit dan masih pipis, jadi Bunda tidak khawatir.

Hari Sabtu, jam 4 pagi Alfath bangun lalu BAB, masih encer. Jam 6 BAB encer lagi. Jam 7 dan jam setengah 9 BAB encer lagi. Masih mau makan dan minum, tapi Bunda sudah mulai khawatir karena frekuensi BAB nya meningkat, tapi kok belum pipis. Jam 10 Bunda bawa ke Bidan, periksa.. bukan untuk meminta obat, tapi hanya butuh opini dari tenaga medis jika Alfath masih baik-baik saja, belum dehidrasi. Kata Bu Bidan, Alfath masih oke, ngga ada dehidrasi. Seperti kebiasaan tenaga medis lain, Bu Bidan memberikan antibiotika dan obat diare (dari kaolin, pektin) untuk Alfath. Sampe rumah, Bunda Cuma simpen aja.. hehe.. bukan apa-apa… kadang Bidan juga ngga ngerti, bahwa Bunda bukan jenis orang tua yang ke dokter minta obat, Bunda ke dokter untuk periksa kesehatan dan meminta pendapat jika anak masih baik-baik saja.

Siang nya, Alfath sama nenek kakeknya malah pergi jalan-jalan ke KCP. Di KCP Bunda lihat Toko Obat Century, jadi keingetan beli Lacto B. Lacto B ngga ada,  akhirnya beli L Bio. Lacto B dan L Bio ini sejenis probiotik atau kumpulan bakteri baik yang bisa mengalahkan bakteri-bakteri jahat di dalam usus. Sesungguhnya, penggunaan probiotik untuk penderita diare lebih baik dibandingkan obat-obata pemampat. Probiotik bekerja dengan memaksimalkan bakteri baik sehingga mengusir bakteri/ virus jahat. Sedangkan obat pemampat hanya mengeraskan feses tanpa mengeluarkan racun atau penyebabnya.

Akhir kata, Bunda memberikan L Bio itu sama Alfath. 2 sachet pertama, alhamdulillah frekuensi BAB nya berkurang. Di sore itu, Alfath hanya 2 kali BAB. Besoknya, Hari Minggu, Alfath BAB 4 kali, hari Senin nya, Alfath BAB 2 kali, hari Selasa dan seterusnya, alhamdulillah normal.

Bunda senennnneeeeng banget, seneng karena Alfath sembuh, juga seneng karena berhasil menerapkan pengobatan rasional untuk Alfath.

Horeee…. ^__^

Incoming search terms:

Bosan dengan model busana muslim yang biasa? Temukan Busana Muslim unik dan elegan di www.butikaini.com
posted by nuren in Parenting and have No Comments

Memilih Sekolah yang Tepat untuk Balita

Baju Muslim Anak Lucu

sekolah alamInsya Allah di tahun ini Azka mulai bersekolah. Sebetulnya Bunda males kalo harus bilang sekolah. Karena Bunda hanya mencari wadah sosialisasi Azka yang lebih besar. Bermain yang terarah. Bukan mencari tempat untuk belajar membaca, berhitung, dan menulis. Makanya, Bunda mau share tentang Memilih Sekolah yang Tepat untuk Balita ini berdasarkan info-info yang Bunda baca dan pengalaman pernah bekerja di TK Al Mufid.

Awalnya, si Ayah maunya memasukkan Azka ke TK usia 3,5 tahun. Tapi, kok Bunda merasa, Azka masih kecil untuk harus ber”sekolah”. Akhirnya BUnda bujuk-bujuk Ayah agar tahun depan aja memasukkan Azka sekolahnya. Agak aneh mungkin buat sebagian orang tua, yang bangga anaknya kecil-kecil sudah bisa baca tulis, Bunda jenis orangtua yang merasa, bukan waktunya BAlita diajari menulis, membaca, dan berhitung. Sesungguhnya, jika bukan karena tuntutan Sekolah DAsar yang mewajibkan calon siswanya bisa calistung sebelum masuk, Bunda rasanya ngga mau ngajarin Azka baca tulis dulu deh. Lebih baik seperti zaman Bunda dulu, kelas 1 SD baru diajarkan baca tulis. ingat negara Finlandia, yang kualitas pendidikannya nomor 1 di Dunia. Mereka mulai mengajarkan calistung sejak usia 7 tahun. tidak ada pengajaran calistung di bawah usia 7. kalo pengenalan huruf-huruf mungkin ada, itu pun sambil bermain dan harus atas partisipasi aktif anak.

Jadiiiiii……. Menimbang:

1. Usia Balita adalah usia bermain. Belajar pun harusnya bermain. Jangan samapai ada stress saat belajar karena bisa menimbulkan “kebantatan”. ya! kebantatan. apa itu artinya? bantat dalam bahsa kue adalah kue yang sudah lama dioven atau dikukus, tapi tidak mengembang. begitu juga anak yang terlalu cepat diberi stress atau beban, nanti jadi bantat, tidak berkembang seperti yang seharusnya.

2. Terus terang, Bunda tadinya mau nyekolahin Azka di TKIT. Tapiii… setelah Bunda baca penelitian dari mahasiswa UNSOED kalo tidak salah (nanti kita bahas lagi), bahwa anak yang bersekolah di TK biasa dengan TKIT ternyata secara kematangan psikologis lebih bagus yang di TK biasa. Alasannya ya itu tadi, karena TKIT bisanya memberlakukan jam belajar yang lebih panjang, jadilah beban anak juga bertambah.

3. Bunda cari sekolah yang ngga ada PR. Di rumah untuk Balita adalah bermain. Bukan duduk mendeluk nulis atau menebalkan huruf-huruf karena tugas dari sekolah. Kalo anak mau nulis nulis, menggambar, melukis, buat prakarya, gunting-gunting..ya itu karena kemauan dia, bukan karena suatu “tugas” sekolah. Nah, berarti di sini Bunda yang harus lebih berperan aktif agar anak bisa menguasai berbagai macam kecerdasan dengan cara menyenangkan.

4. Bunda sebetulnya cari sekolah yang mengajak anak terjun ke alam juga. tapi, karena di sini sepertinya tidak ada yang seperti itu, berarti tugas Bunda ngajakin (bukan ngajarin) Azka untuk berkebun, nangkap ikan di “susukan”, main becek-becekan, megang sapi, buat kue-kue dari tanah liat, dsb.

5. Bunda cari TK A yang kegiatan sehari-harinya adalah bermain dan bermain. Tepuk-tepuk, loncat-loncat, main warna, pokoknya main yang gurunya ikut bermain. Bukan sekolah yang bangkunya dijejerin rapi, trus guru di depan kelas.

Nah, dari pertimbangan-pertimbangan itu, jatuhlah pilihan Bunda pada satu TK di komplek perumahan yang katanya ngga ada PR dan kerjanya cuma tepuk tepuk aja. hehe… mudah-mudahan karakter Azka bisa terbangun mulai dari sini.

Ini sih pikiran Bunda ya.. Mungkin banyak Bunda lain tidak sejalan, ya gapapa. Kadang ibu lebih mengerti tabiat anak sendiri. :)

Oya, ini Bunda selipin artikel dari parenting.co.id. Rasa-rasanya mirip seperti yang Bunda pikirkan. ;)

 

TRIK MEMILIH SEKOLAH ANAK

Pilih-pilih sekolah anak

Sudah ancang-ancang memasukkan si kecil ke sekolah tahun ini? Atau mungkin Anda malah sudah punya sekolah pilihan untuknya? Mengingat begitu banyaknya penawaran, inilah beberapa hal yang mungkin dapat membantu Anda mengambil keputusan:

Masa kanak-kanak adalah masa bermain. Jadi, jangan terlalu dini memaksakan pendidikan yang ‘serius’ bagi anak, agar masa bermainnya tidak terenggut. Apalagi kalau Anda masih membebani anak dengan sederet les tambahan, mulai dari membaca, berhitung, piano, balet, dll. Pendidikan untuk anak-anak di bawah usia enam tahun tak harus selalu berupa pendidikan formal. Playgroup atau taman bermain, prasekolah maupun TK seharusnya hanya menjadi fasilitator dalam menstimulasi perkembangan anak, baik fisik (motorik kasar maupun halus), mental (kognitif), emosi, sosial, dan kemampuan berbahasanya.

Pilih sekolah yang guru-gurunya memiliki ‘unconditional love’. Artinya, guru-guru di sekolah itu bisa menerima setiap anak apa adanya, dan bisa mengembangkan lingkungan yang disiplinnya positif. Sekolah tidak menuntut anak di luar kemampuannya, berusaha mengerti anak, dan mendorong anak untuk bisa dan bangga atas kemampuannya. Bukan dengan marah-marah atau memaksa anak untuk menyelesaikan lembar tugasnya.

Sekolah yang menggunakan konsep belajar melalui pengalaman (experiential learning), memberikan stimulasi pada anak melalui pengalaman bermain dan eksplorasi langsung terhadap dunia di sekitarnya. Sekolah-sekolah ini biasanya mengajak murid-muridnya langsung ‘terjun’ ke alam untuk mempelajari apa yang hendak dipelajari; seperti belajar tentang sapi dengan melihat langsung seekor sapi, atau kalau belajar menggambar, itu dilakukan di halaman atau di alam terbuka. Biasanya konsep seperti ini bisa ditemukan di sekolah-sekolah alam.

Ada pula sekolah yang mengedepankan konsep belajar aktif (active learning), dengan melatih anak untuk selalu kreatif dengan menciptakan berbagai kreasi dari benda-benda di sekitarnya. Contoh, kardus bekas tisu gulung, karton susu, kaleng bekas minuman. Namun yang jelas, sekolah yang baik tidak harus selalu yang gedungnya mentereng, atau alat-alatnya serba lengkap. Sekolah yang baik adalah yang bisa mendorong kemandirian anak, dan mengembangkan kemampuan sosial maupun kematangan emosinya

Bagaimana dengan soal bahasa? Benarkah sekolah bilingual lebih baik? Ternyata sampai sekarang para ahli masih memperdebatkan efektivitas mengajarkan dua bahasa (Inggris dan Indonesia) pada masa golden age anak (sampai usia 5 tahun). Bila anak tepat waktu dalam perkembangan bahasanya (cooing muncul di usia sekitar 2-3 bulan, babbling di usia sekitar 6-8 bulan, kata pertama di usia sekitar 1 tahun), kemungkinan besar ia tidak akan mengalami telat bicara. Dan bagi anak-anak ini, bersekolah di sekolah bilingual tidak akan jadi masalah. Sebaliknya, bila tahapan-tahapan itu tidak muncul di usia yang tepat, bahasa asing yang harus dia serap selain bahasa ibu, bisa-bisa malah membuat ia jadi telat bicara.

Satu lagi pertimbangan yang tak kalah penting adalah faktor biaya. Banyak orangtua rela membayar mahal agar anaknya memperoleh pendidikan terbaik. Tapi, tak ada salahnya tetap memperhitungkan apakah biaya yang Anda keluarkan akan sesuai dengan apa yang didapat si kecil bila bersekolah di situ. Uang sekolah yang tinggi, misalnya, tentu rasanya tak sepadan bila fasilitas pendidikan di sekolah tersebut ternyata kurang memadai. Tapi, semahal apa pun, jangan lupa untuk mempertimbangkan bahwa sekolah mahal dan fasilitas yang aduhai pun bukanlah segalanya.

Incoming search terms:

Bosan dengan model busana muslim yang biasa? Temukan Busana Muslim unik dan elegan di www.butikaini.com
posted by nuren in Parenting and have No Comments

Hanya ibu rumah tangga biasa (just the ordinary housewife)

Baju Muslim Anak Lucu

Jika ibu-ibu lain mengklaim bahwa mereka bekerja demi anak, demi masa depan anak, ataupun demi membeli susu anak, maka Bunda mengklaim bahwa Bunda berhenti bekerja dan memilih bekerja dari rumah adalah demi anak.

 

Terus terang, menurut Bunda, bekerja di kantor jauh lebih enak dibandingkan harus mengurus rumah, mengurus cucian baju, piring, membereskan rumah, menyetrika, dan terutama mengurus krucil. Dan tentu saja, bagian yang terberat adalah mengurus duo krucil ini. Azka dan Alfath. Bisa dikatakan, bagian pekerjaan rumah tangga yang lain berurusan dengan benda mati, yang pengerjaannya terserah kita. Mau rapih ya beresin, mau nyantai ya cuekin. Tapi, mengurus anak tentu saja tidak bisa semau kita. Misal, ketika kita menyuruh mandi, anaknya malah kabur. Disuruh makan, malah disembur-sembur. :D

Begitulah, bekerja dengan anak adalah suatu seni menyelaraskan pikiran kita dengan anak. Ibu dituntut bagaimana caranya agar anak mau menuruti keinginan ibu tanpa harus ada teriakan dan paksaan yang sejatinya tidak baik untuk pertumbuhan anak.

Menurut Rhenald Kasali dalam acara Rumah Perubahan nya, memang seharusnya bukan anak yang harus mengikuti pola pikir orang dewasa, orang dewasalah yang harus terjun dan menyelami pola pikir anak.

 

Ada satu pengalaman yang Bunda mau bagi. Setiap pagi, Bunda biasanya pergi ke pasar perumahan yang jaraknya sekitar 3 blok dari rumah. Kurang lebih 1 km. Si sulung Azka, kalo berjalan, masya Allah… orang bilang Puteri Solo. Kemayu, lenggak lenggok, perlahan. Tentu saja kadang membuat Bunda tidak sabaran. Tapi, ada satu cara untuk mempercepat langkah Azka. Apa itu? Dengan petak umpet. Ya. Petak umpet. Kalau Azka sedang kumat Puteri Solo nya, Bunda cepat-cepat lari ke balik tiang listrik, Azka langsung tahu kalo Bundanya ngajak main petak umpet, otomatis dia langsung berlari dan teriak tertawa-tawa. “haaaaa…..!!!” katanya. Alhasil, sepanjang jalan Bunda lari, ngumpet, lari, ngumpet, kadang di balik batang pohon, di balik mobil. Hehe…

 

Kok malah ngawur nih ceritanya….

Yah.. balik lagi ke cerita ibu-ibu rumah tangga. Bunda, ketika memutuskan untuk berhenti bekerja, dan totally being a housewife, tentu saja disertai kesadaran dan tulus ikhlas dengan segala konsekuensinya. Walaupun akhirnya harus bertabrakan ide dengan mamah  tercinta yang lebih menyukai ide jika bunda bekerja saja seperti layaknya S1 yang lain. Bunda ikhlas, meninggalkan segala warna-warni kehidupan bekerja, menggantungkan penghasilan utama pada si Ayah, dan tentu saja menerima kritik pedas masyarakat yang kadang masih melihat miring jika ada Sarjana yang “hanya” menjadi ibu rumah tangga. Padahal dulu belum ada cerita “Ainun & Habibie”, tapi sungguh, saat menatap bayi Azka, Bunda sudah bertekad akan mendidik sendiri, mengajari sendiri, ngga mau menitipkan dan memberikan tanggung jawab yang besar itu kepada orang lain apalagi, maaf, khadimat. Bunda ngga mau, jika suatu saat, ketika dia besar dan tumbuh tidak sesuai harapan Bunda, bunda sampai bilang “menyesal tidak kudidik sendiri”. Setidaknya, Bunda memberikan yang terbaik. Hasilnya, Bunda serahkan pada Allah.

 

Tapi, tentu saja, Bunda sama sekali tidak apatis terhadp ibu-ibu yang memilih bekerja. Menurut pak Hepi Andi Bastoni dalam bukunya “Wanita mengapa Takut Berbisnis”, beliau menyarankan bahwa wanita pun dianjurkan bersekolah, menuntut ilmu, dan mengaplikasikannya untuk kepentingan masyarakat. Jika semua wanita bekerja dari rumah saja, bagaimana nanti jika ada ummahat atau akhwat yang sakit dan tidak ada dokter wanita. Wanita pun sangat dibutuhkan dalam perkancahan segala jenis bidang.

Tapi ya itu.. semua pilihan ada konsekuensi nya kan..? Itu saja yang harus kita sadari dan pertanggungjawabkan.

 

Ohya, jadi ibu rumah tangga juga ngga lantas stuck dan bagai katak dalam tempurung loh.. Kita juga bisa ikut berkancah dalam segla hal, misal dalam perekonomian. Tidak sedikit ibu-ibu rumah tangga yang mampu menghasilkan pundi-pundi sambil menggendong bayi. Bunda ikut salah satu dari mereka dengan bisnis baju muslim Bunda. Bunda cerita lain kali ya… ^^

Incoming search terms:

Bosan dengan model busana muslim yang biasa? Temukan Busana Muslim unik dan elegan di www.butikaini.com
posted by nuren in Parenting and have No Comments

SEO Powered By SEOPressor