Cerita Bunda

Coretan Bunda Mengisi Waktu Luang

Encouragement: Memotivasi Anak yang Melahirkan Kehebatan

Baju Muslim Anak Lucu
Bookmark this on Hatena Bookmark
Hatena Bookmark - Encouragement: Memotivasi Anak yang Melahirkan Kehebatan
Share on Facebook
Post to Google Buzz
Bookmark this on Yahoo Bookmark
Bookmark this on Livedoor Clip
Share on FriendFeed
Encouragement: Memotivasi Anak yang Melahirkan KehebatanCerita Bunda

memotivasi anak

memotivasi anak akan menumbuhkan potensi anak

Tulisan berikut adalah hasil copas dari sebuah milis. Patut kita renungkan dalam mendidik anak-anak kita untuk tidak pelit memberikan pujian dan memotivasi anak.

Encouragement
Thursday, 15 July 2010

LIMA belas tahun lalu saya pernah mengajukan protes pada  guru sebuah  sekolah tempat anak saya belajar di Amerika Serikat. Masalahnya, karangan berbahasa Inggris yang ditulis anak saya seadanya  itu  telah diberi nilai E (excellence) yang artinya sempurna, hebat, bagus  sekali.  Padahal dia baru saja tiba di Amerika dan baru mulai belajar bahasa.  Karangan yang dia tulis sehari sebelumnya itu pernah ditunjukkan kepada  saya  dan saya mencemaskan kemampuan verbalnya yang terbatas. Menurut saya  tulisan  itu buruk, logikanya sangat sederhana.

Saya memintanya memperbaiki kembali,sampai dia  menyerah.Rupanya karangan itulah yang diserahkan anak saya kepada gurunya dan  bukan diberi nilai buruk, malah dipuji. Ada apa? Apa tidak salah memberi  nilai? Bukankah pendidikan memerlukan kesungguhan? Kalau begini saja sudah  diberi nilai tinggi, saya khawatir anak saya cepat puas diri. Sewaktu  saya protes, ibu  guru yang menerima saya hanya bertanya singkat. “Maaf Bapak  dari mana?”

“Dari Indonesia,” jawab saya. Dia pun tersenyum.

Budaya Menghukum

Pertemuan itu merupakan sebuah titik balik yang penting  bagi hidup saya. Itulah saat yang mengubah cara saya dalam mendidik dan  membangun masyarakat.

“Saya mengerti,” jawab ibu guru yang wajahnya mulai berkerut, namun  tetap  simpatik itu.

“Beberapa kali saya bertemu ayah-ibu dari Indonesia yang  anak-anaknya dididik di sini,”lanjutnya.

“Di negeri Anda, guru sangat  sulit  memberi nilai.Filosofi kami mendidik di sini bukan untuk menghukum,  melainkan untuk merangsang orang agar maju. Encouragement! ” Dia pun  melanjutkan argumentasinya.

“Saya sudah 20 tahun mengajar. Setiap anak berbeda-beda. Namun untuk  anak sebesar itu, baru tiba dari negara yang bahasa ibunya bukan bahasa  Inggris,  saya dapat  menjamin, ini adalah karya yang hebat,” ujarnya menunjuk karangan  berbahasa  Inggris yang dibuat anak saya.

Dari diskusi itu saya mendapat pelajaran  berharga. Kita tidak dapat mengukur prestasi orang lain menurut ukuran  kita.Saya teringat betapa mudahnya saya menyelesaikan study saya yang  bergelimang nilai “A”, dari program master hingga doktor. Sementara di  Indonesia, saya harus menyelesaikan studi jungkir balik ditengarai  ancaman  drop out dan para penguji yang siap menerkam. Saat ujian program doctor  saya  pun dapat melewatinya dengan mudah. Pertanyaan mereka memang sangat serius dan membuat saya harus  benar-benar siap. Namun suasana ujian dibuat sangat bersahabat. Seorang penguji bertanya  dan  penguji yang lain tidak ikut menekan, melainkan ikut membantu memberikan jalan begitu mereka tahu jawabannya. Mereka menunjukkan grafik –grafik  yang  saya buat dan menerangkan seterang-terangnya sehingga kami makin  mengerti.   Ujian penuh puja-puji, menanyakan ihwal masa depan dan mendiskusikan  kekurangan penuh keterbukaan. Pada saat kembali ke Tanah Air, banyak hal  sebaliknya sering saya saksikan. Para pengajar bukan saling menolong,  malah  ikut “menelan” mahasiswanya yang duduk di bangku ujian.

Ketika seseorang penguji atau promotor membela atau  meluruskan pertanyaan,  penguji marah-marah, tersinggung, dan menyebarkan berita tidak sedap  seakan-akan  kebaikan itu ada udang di balik batunya. Saya sempat mengalami frustrasi  yang luar biasa menyaksikan bagaimana para dosen menguji, yang maaf,  menurut  hemat saya sangat tidak manusiawi. Mereka bukan melakukan encouragement,  melainkan discouragement. Hasilnya pun bisa diduga, kelulusan rendah dan  yang diluluskan pun kualitasnya tidak hebat-hebat betul. Orang yang  tertekan  ternyata belakangan saya temukan juga menguji dengan cara menekan.

Ada semacam balas dendam dan kecurigaan. Saya ingat betul bagaimana  guru-guru di Amerika memajukan anak didiknya. Saya berpikir
pantaslah  anak-anak di sana mampu  menjadi penulis karya-karya ilmiah yang hebat, bahkan penerima Hadiah  Nobel.   Bukan karena mereka punya guru yang pintar secara akademis, melainkan  karakternya sangat kuat: karakter yang membangun, bukan  merusak.

Kembali  ke  pengalaman anak saya di atas, ibu guru mengingatkan saya.

“Janganlah  kita  mengukur kualitas anak-anak kita dengan kemampuan kita yang sudah jauh  di  depan,” ujarnya dengan penuh kesungguhan.

Saya juga teringat dengan  rapor  anak-anak di Amerika yang ditulis dalam bentuk verbal. Anak-anak Indonesia yang baru tiba umumnya mengalami kesulitan, namun rapornya tidak diberi nilai merah, melainkan diberi kalimat yang  mendorongnya untuk bekerja lebih keras, seperti berikut.

“Sarah telah  memulainya dengan berat, dia mencobanya dengan sungguh-sungguh. Namun  Sarah  telah menunjukkan kemajuan yang berarti.”

Malam itu saya mendatangi anak  saya yang tengah tertidur dan mengecup keningnya. Saya ingin memeluknya  di  tengah-tengah rasa salah telah memberi penilaian yang tidak objektif.   Dia pernah protes saat menerima nilai E yang berarti excellent (sempurna), tetapi  saya mengatakan “gurunya salah”. Kini saya melihatnya dengan kacamata  yang  berbeda.

 Melahirkan Kehebatan

Bisakah kita mencetak orang-orang hebat dengan cara menciptakan hambatan  dan  rasa takut? Bukan tidak mustahil kita adalah generasi yang dibentuk oleh  sejuta ancaman: gesper, rotan pemukul, tangan bercincin batu akik, kapur,  dan penghapus yang dilontarkan dengan keras oleh guru, sundutan rokok, dan  seterusnya. Kita dibesarkan dengan seribu satu kata-kata ancaman: > Awas…; Kalau,…; Nanti,…; dan tentu saja tulisan berwarna merah menyala di  atas  kertas ujian dan rapor di sekolah.

Sekolah yang membuat kita tidak nyaman mungkin telah  membuat kita menjadi  lebih disiplin. Namun di lain pihak dia juga bisa mematikan
inisiatif  dan mengendurkan semangat. Temuan-temuan baru dalam ilmu otak ternyata menunjukkan otak  manusia tidak statis, melainkan dapat mengerucut (mengecil) atau  sebaliknya,  dapat tumbuh. Semua itu sangat tergantung dari ancaman atau dukungan (dorongan) yang didapat dari orang-orang di sekitarnya. Dengan demikian  kecerdasan manusia dapat tumbuh, sebaliknya dapat menurun. Seperti yang  sering saya katakan, ada orang pintar dan ada orang yang kurang pintar  atau  bodoh.

Tetapi juga ada orang yang tambah pintar dan ada orang yang tambah bodoh. Mari kita renungkan dan mulailah mendorong kemajuan, bukan menaburkan  ancaman atau  ketakutan. Bantulah orang lain untuk maju, bukan dengan menghina atau  memberi ancaman yang menakut-nakuti. (*)

RHENALD KASALI
Ketua Program MM UI

Mudaha-mudahan tulisan di atas menginspirasi kita para orang tua untuk mendidik anak dengan cara tidak menekan, melainkan dengan encouragement, yaitu memotivasi anak untuk melahirkan kehebatan.

Incoming search terms:

Bosan dengan model busana muslim yang biasa? Temukan Busana Muslim unik dan elegan di www.butikaini.com
posted by nuren in Motivasi and have No Comments

No comments

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Isian wajib ditandai *

Anda dapat memakai tag dan atribut HTML ini: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>


SEO Powered By SEOPressor