Cerita Bunda

Coretan Bunda Mengisi Waktu Luang

Gara-gara Si “Gara-gara”

Baju Muslim Anak Lucu
Bookmark this on Hatena Bookmark
Hatena Bookmark - Gara-gara Si “Gara-gara”
Share on Facebook
Post to Google Buzz
Bookmark this on Yahoo Bookmark
Bookmark this on Livedoor Clip
Share on FriendFeed
Gara-gara Si “Gara-gara”Cerita Bunda

imagesPernah dengar keluhan-keluhan seperti ini…?

“Aduh, ngga jadi berangkat gara-gara hujan..”

“tuh, kaann.. gara-gara kamu jadi berantakan makanannya..”

“Gara-gara mikirin dia, aku ngga bisa tidur semalaman..”

“gara-gara…”

“gara-gara..”

“gara-gara…”

 

Tahun 1990an adalah era Gara-gara. Ada Sitkom “Gara-gara” yang dibintangi Jimmy Gideon dan Lidya Kandouw dan juga lirik lagu “gara-gara”. (Saya lupa penyanyinya).

Di era sekarang pun kita sering melihat kata “gara-gara” bersliweran di facebook atau twitter. Biasanya remaja dan ibu-ibu galau yang menulis status jenis ini.

Apakah Anda tahu, bahwa kata gara-gara ini tidak saya sukai? (terus, apa hubungannya? hehe..)

Maksud Saya, Saya tidak menyukai kata “gara-gara” ini, karena kesannya hanya bisa menyalahkan orang tanpa introspeksi diri sendiri.

 

“Gara-gara tukang sayur ngga lewat, jadi ngga masak deh..”

(kenapa nyalahin tukang sayur? dia mungkin ada kepentingan, atau sayurannya udah habis jadi ngga lewat. kenapa ngga usaha cari sayur di tempat lain? Lagian, tukan sayur, mana tau ditungguin..?).

“HP rusak nih, gara-gara dimainin anak-anak”.

(namanya juga anak-anak, kenapa dibiarin mainan hp kalo emang takut rusak. Simpan yang baik, kalo udah rusak ya emang kelalaian sebagai orang tua yang kurang hati-hati menjaga barang..).

“Sinta jadi flu nih, gara-gara kehujanan”.

(Hujan mana tau situasi dan kondisi kita, dia turun dimana saja dia mau. Trus kenapa kita hujan-hujanan. Kan banyak alternatif lain, misalnya berhenti meneduh dulu. Kalo emang terpaksa harus menerobos hujan dan jadi sakit, itu namanya resiko. Bukan “gara-gara”.)

 

Dan masih banyak “gara-gara – gara-gara” lainnya. Marilah dari sekarang kita coba mengurangi kata “gara-gara” ini. BErhentilah menyalahkan orang lain dan keadaaan. Jika suatu keadaaan yang tidak enak terjadi pada kita, itu bukan “gara-gara”, itu adalah konsekuensi (resiko) dari perbuatan kita atau terjadi memang karena kesalahan kita sendiri yang harus diinterospeksi.

Insya Allah, dengan mengurangi kata “gara-gara” ini, kita menjadi pribadi yang lebih positif dan tidak asal menyalahkan. Dan akan menjalani kehidupan yang lebih bahagia dan gembira.

Stop blaming from now, kay…!  :)

 

Bosan dengan model busana muslim yang biasa? Temukan Busana Muslim unik dan elegan di www.butikaini.com
posted by nuren in Motivasi and have No Comments

No comments

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Isian wajib ditandai *

Anda dapat memakai tag dan atribut HTML ini: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>


SEO Powered By SEOPressor