Cerita Bunda

Coretan Bunda Mengisi Waktu Luang

Archive for Februari, 2012

METAMORFOSIS HIDUP: FASE PERTAMA

Baju Muslim Anak Lucu

metamorfosisJika saja kehidupan manusia bisa diibaratkan seperti serangga, maka perjalanan kehidupan manusia layaknya metamorfosis pada kupu-kupu…

Begitupun pula dengan kehidupanku…

Fase pertama yang kuanggap sebagai fase larva adalah saat aku ditakdirkan bekerja dengan dosen pembimbingku ibu SA. Fase di bawahnya aku anggap tidak berarti, dan aku anggap itu sebagai fase telur.

Ditakdirkan bekerja bersama beliau adalah fase pembangkit semangatku yang pertama. Dimana sebelum bertemu beliau, aku merasa bahwa diriku adalah standar. tidak memiliki mimpi yang jelas dan sangat labil. Pendirian yang lemah, mudah terpengaruh menjadi sifat utamaku.

Saat itulah, ibu SA yang merupakan pembimbing akademikku meminta salah satu dari anak didiknya untuk membantu beliau dalam sebuah proyek ilmiah. Awalnya tentu yg diminta tolong adalah teman satu bimbinganku karena dia jauh lebih pintar, tapi karena temanku itu ada kesibukan lain, akhirnya aku yg diminta tolong.

Proyek yang sedang dikerjakan beliau adalah pembuatan naskah NIP (National Implementation Plan) untuk pemberantasan pestisida sebagai implementasi dari kesepakatan Protokol Kyoto. Bekerja bersama beliau membuatku malu jika aku tidak sungguh-sungguh membantu beliau. Malu jika beliau datang lebih pagi dari aku, atau pulang lebih larut dariku. Beliau mentor pertamaku yang memperlihatkan arti kata “kerja”.

Bersama beliau dan proyeknya aku bisa mengenal kehidupan para eselon dan etika kehidupan kelas atas, karena proyek ini bekerja sama langsung dengan Departemen Kehutanan, Departemen Pertanian, dan Departemen Kesehatan. Mengasah keberanian dari petualangan sendirian mencari LSM-LSM untuk mencari data.

Bersama beliau kali pertama aku bekerja sampai jam 3 pagi.

Ibu SA… seorang yang sederhana, profesor yang low profile, yang HPnya masih 3310 saat anak-anak didiknya udah pake 3230, 6600, dan hp berkamera lainnya. Masih kuingat laptop jadulnya yang berwarna abu-abu tua. MAsih terbayang dinginnya pagi saat menemui beliau di kantornya untuk menyetor naskah. Masih kuingat wajahnya yg tetap bersemangat saat mengantarku ke kosan jam setengah 4 pagi.

Dengan izin Allah… melalui beliau, aku mulai menemukan bentuk diriku. Karakterku. Bersama beliau aku memulai kemandirianku dan cita-citaku.

dan itulah fase pertama dalam metamorfosis hidup ku……..

Incoming search terms:

Bosan dengan model busana muslim yang biasa? Temukan Busana Muslim unik dan elegan di www.butikaini.com
posted by nuren in Motivasi and have No Comments

The Greatest Economic Minister in The World

Baju Muslim Anak Lucu

ibuku pengatur ekonomi keluargaKalo aja ibuku pendidikannya lebih tinggi, lalu ikut partai, lalu mencalonkan diri jadi menteri…, mestilah Indonesia sudah merajai perekenomian minimal Asia saat ini.

Tapi itu ngawur..

Realitanya adalah.. ibu kami mampu membawa perekomian keluarga kami sampai ke taraf sederhana. Dari tidak mampu.

Dulu..masa kecil… masih lekat di memori.. makan hanya dengan terasi bakar atau ikan japuh yg digarang. kadang2 telor… apalagi zaman kakakku.. wah.. lebih parah….

Bapakku adalah seorang sopir angkot. awalnya membawa angkot punya kakekku. Lama-lama bisa kredit sendiri, sampai akhirnya berkat kepiawaian ibuku mengelola keuangan, angkot tersebut bisa beranak jadi 3.. Jadilah bapakku juragan angkot.

Nah, waktu zaman susah itu.. waktu angkotnya belum beranak, untuk menambah penghasilan keluarga, ibuku membuka warung. Awalnya kecil saja. tapi, karena bisa mengelola warung juga, warungnya jadi lumayan besar. bahkan pelanggannya banyak yg dari kampung sebelah.

Dari hasil warung dan angkot, bapak ibu membangun rumah di sebidang tanah yg diberikan oleh kakekku. Karena tanah cukup luas, bisa jadi 2 rumah. Rumah yg 1 dikontrakan untuk nambah penghasilan juga. kalo lagi kosong, kadang2 jadi villa juga untuk orang2 jakarta yg datang ke cipanas untuk menikmati akhir pekan.

Dari hasil angkot, warung, dan kontrakan… bapak ibu akhirnya bisa naik haji.

Suatu berkah buat mereka saat itu. bagaimana tidak..? Saat itu..yg bisa naik haji, kalo bukan orang kaya ya petani yg dapet bursot (istilah ketika berhasil menjual tanah). Setelah naik haji, ibuku punya rencana lain.. dari kepiawaiannya mengelola uang, beliau mengincar rumah lagi ternyata.

Pernah suatu malam beliau mengajak aku jalan-jalan ke daerah tonggoh (istilah sunda yg menunjukkan daerah dg tempat lebih tinggi). Beliau menunjuk sebuah rumah dg pekarangan yang luas.

“Dew, sae teu bumi eta?” tanyanya.

“Sae,mah… halamanna ageung ning…” sahutku.

Singkat cerita, ngga lama kemudian rumah itu menjadi milik kami dan kami pun pindah ke rumah itu..

Belum berhenti, dengan 2 passive income dari rumah, dan pekerjaan sehari-hari bapakku, aku bisa melanjutkan kuliah dengan predikat sangat memuaskan (maksud looo….??? -> sori, intermezo). Sekarang adikku pun bisa melanjutkan kuliah.

Seorang sopir angkot dan seorang tukang warung, bisa menghasilkan 2 angkot,1 mobil carry tahun 1995, 3 rumah, dan 2 anak yg kuliah. Buatku, itu prestasi yang membanggakan… (jelaslah… karena mereka ortu..)

Begini caranya ibuku mengelola keuangan (yg sampai saat ini belum bisa kutiru):

1. Buat ibuku, makanan bergizi hanya penting buat anak dan suami. Buat sendiri mah belakangan.

2. Buat ibuku, hal2 yg terlihat harus diutamakan dibanding yg tidak terlihat. contohnya, kalo makan sama ikan teri, orang ngga tau. Tapi kalo anak belum bayar SPP, orang-orang pasti tau.

3. Ibuku rajin sekali mencatat pengeluaran dan pemasukkan. Anggaran yang sudah direncanakan tidak boleh jebol.

4. Belanja di pasar…? Tawar sampe separuh harga. Serius. Ibuku bisa dapat barang harga 200 dg hanya 100. pernah ada tukang dagang keramik anjing 4 susunkeliling, nawarinnya 100 ribu 1 set, ibuku bisa dapet dg harga 40 ribu.

5. Kalo aku bilang… bapak dan ibuku adalah orang-orang ahli ibadah. Dulu, tidak banyak yg mereka tau tentang ilmu agama. Tapi, dengan yang sedikit itu, mereka amalkan sungguh2. Sholat 5 waktu dan sering sekali shalat tahajud.

6. Niat yg tulus memajukan kehidupan demi anak. Bapakku pernah bilang, ukuran keberhasilan seorang orang tua adalah ketika anaknya bisa lebih berhasil dibanding orang tuanya.

7. Produksi sebanyak mungkin, konsumsi sedikit mungkin. Artinya, kalo bisa bikin ya bikin. Kalo bisa dimanfaatkan untuk dibikin ya bikin. Ngga usah beli, selain lebih mahal, kadang kalo makanan lebih endak bikin sendiri.

8. Dan lain lain lah.. mungkin banyak.. tapi beberapa hal ini yg kuingat.

Entah siapa di antara anak2 ibuku yg mewarisi sifat beliau. kayaknya semua sih pada royal dan sneng jajan. hehehe… Tapi kalo menurut si ayah, bunda paling perhitungan kalo soal uang.Hahahaha….

I love u mom… Semoga anakmu ini mampu mengatur ekonomi keluarga.

Incoming search terms:

Bosan dengan model busana muslim yang biasa? Temukan Busana Muslim unik dan elegan di www.butikaini.com
posted by nuren in Motivasi and have No Comments

Passport – by Rhenald Kasali

Baju Muslim Anak Lucu

Passport,  artikel singkat yang menginspirasi ini ditulis oleh Bpapak Rhenald Kasali dan dipublikasikan di harian Jawapos 8 Agustus 2011. Saya copas dari sebuah milis.

Passport

by Rhenald Kasali

Setiap saat mulai perkuliahan, saya selalu bertanya kepada mahasiswa berapa orang yang sudah memiliki passport.  Tidak mengherankan, ternyata hanya sekitar 5% yang mengangkat tangan.  Ketika ditanya berapa yang sudah pernah naik pesawat, jawabannya melonjak tajam. Hampir 90% mahasiswa saya sudah pernah melihat awan dari atas. Ini berarti mayoritas anak-anak kita hanyalah pelancong lokal.

Maka, berbeda dengan kebanyakan dosen yang memberi tugas kertas berupa PR dan paper, di kelas-kelas yang saya asuh saya memulainya dengan memberi tugas mengurus passport.  Setiap mahasiswa  harus memiliki “surat ijin memasuki dunia global.”. Tanpa passport manusia akan kesepian, cupet, terkurung dalam kesempitan, menjadi pemimpin yang steril.  Dua minggu kemudian,  mahasiswa sudah bisa berbangga karena punya passport.

passport luar negeri

passport

Setelah itu mereka bertanya lagi, untuk apa passport ini?  Saya katakan, pergilah keluar negeri yang tak berbahasa Melayu.  Tidak boleh ke Malaysia, Singapura, Timor Leste atau Brunei Darussalam.  Pergilah sejauh yang mampu dan bisa dijangkau.
“Uang untuk beli tiketnya bagaimana, pak?”
Saya katakan saya tidak tahu.  *Dalam hidup ini, setahu saya hanya orang bodohlah yang selalu memulai pertanyaan hidup, apalagi memulai misi kehidupan dan tujuannya dari uang. *Dan begitu seorang pemula bertanya uangnya dari mana, maka ia akan terbelenggu oleh constraint.  Dan hampirpasti jawabannya hanyalah tidak ada uang, tidak bisa, dan tidak mungkin.

Pertanyaan seperti itu tak hanya ada di kepala mahasiswa, melainkan juga para dosen steril yang kurang jalan-jalan.  Bagi mereka yang tak pernah melihat dunia, luar negeri terasa jauh, mahal, mewah, menembus batas kewajaran dan buang-buang uang.  Maka tak heran banyak dosen yang takut sekolah ke luar negeri sehingga memilih kuliah di almamaternya sendiri. Padahal dunia yang terbuka bisa membukakan sejuta kesempatan untuk maju. Anda bisa mendapatkan sesuatu yang yang terbayangkan, pengetahuan, teknologi, kedewasaan, dan wisdom.

Namun beruntunglah, pertanyaan seperti itu tak pernah ada di kepala para pelancong, dan diantaranya adalah mahasiswa yang dikenal sebagai kelompok backpackers. Mereka adalah pemburu  tiket dan penginapan super murah, menggendong ransel butut dan bersandal jepit, yang kalau kehabisan uang bekerja di warung sebagai pencuci piring.  Perilaku melancong mereka sebenarnya tak ada bedanya dengan remaja-remaja Minang, Banjar, atau Bugis, yang merantau ke Pulau Jawa berbekal seadanya.Ini berarti tak banyak orang yang paham bahwa bepergian keluar negeri sudah tak semenyeramkan, sejauh, bahkan semewah di masa lalu.

Seorang mahasiswa asal daerah yang saya dorong pergi jauh, sekarang malah rajin bepergian.  Ia bergabung ke dalam kelompok PKI (Pedagang Kaki Lima Internasional) yang tugasnya memetakan pameran-pameran besar yang dikoordinasi pemerintah. Disana mereka membuka lapak, mengambil resiko, menjajakan aneka barang kerajinan, dan pulangnya mereka jalan-jalan, ikut kursus, dan membawa dolar.  Saat diwisuda, ia menghampiri saya dengan menunjukkan passport nya yang tertera stempel imigrasi dari 35 negara.  Selain kaya teori, matanya tajam mengendus peluang dan rasa percaya tinggi.  Saat teman-temannya yang lulus cum-laude masih mencari kerja, ia sudah menjadi eksekutif di sebuah perusahaan besar di luar negeri.

The Next Convergence

Dalam bukunya yang berjudul The Next Convergence, penerima hadiah Nobel ekonomi Michael Spence mengatakan,  dunia tengah memasuki Abad Ke tiga dari Revolusi Industri.  Dan sejak tahun 1950, rata-rata pendapatan penduduk dunia telah meningkat dua puluh kali lipat.  Maka kendati penduduk miskin masih banyak, adalah hal yang biasa kalau kita menemukan perempuan miskin-lulusan SD dari sebuah dusun di Madura bolak-balik Surabaya-Hongkong.

Tetapi kita juga biasa menemukan mahasiswa yang hanya sibuk demo dan tak pernah keluar negeri sekalipun.  Jangankan ke luar negeri, tahu harga tiket pesawat saja tidak, apalagi memiliki passport. Maka bagi saya, penting bagi para pendidik untuk membawa anak-anak didiknya melihat dunia.  Berbekal lima ratus ribu rupiah, anak-anak SD dari Pontianak dapat diajak menumpang bis melewati perbatasan Entekong memasuki Kuching.  Dalam jarak tempuh sembilan jam mereka sudah mendapatkan pelajaran PPKN yang sangat penting, yaitu pupusnya kebangsaan karena kita kurang urus daerah perbatasan. Rumah-rumah kumuh, jalan berlubang, pedagang kecil yang tak diurus Pemda, dan infrastruktur yang buruk ada di bagian sini.  Sedangkan hal sebaliknya ada di sisi seberang. Anak-anak yang melihat dunia akan terbuka matanya dan memakai nuraninya saat memimpin bangsa di masa depan. Di universitas Indonesia, setiap mahasiswa saya diwajibkan memiliki passport dan melihat minimal satu negara.

Dulu saya sendiri yang menjadi gembala sekaligus guide nya.  Kami menembus Chiangmay dan menyaksikan penduduk miskin di Thailand dan Vietnam bertarung melawan arus globalisasi.  Namun belakangan saya berubah pikiran, kalau diantar oleh dosennya, kapan memiliki keberanian dan inisiatif? Maka perjalanan penuh pertanyaan pun mereka jalani.  Saat anak-anak Indonesia ketakutan tak bisa berbahasa Inggris, anak-anak Korea dan Jepang yang huruf tulisannya jauh lebih rumit dan pronounciation-nya sulit dimengerti menjelajahi dunia tanpa rasa takut. Uniknya, anak-anak didik saya yang sudah punya passport itu 99% akhirnya dapat pergi keluar negeri.  Sekali lagi, jangan tanya darimana uangnya.  Mereka memutar otak untuk mendapatkan tiket, menabung, mencari losmen-losmen murah, menghubungi sponsor dan mengedarkan kotak sumbangan.  Tentu saja, kalau kurang sedikit ya ditomboki dosennya sendiri.

Namun harap dimaklumi, anak-anak didik saya yang wajahnya ndeso sekalipun kini di passport nya tertera satu dua cap imigrasi luar negeri. Apakah mereka anak-anak orang kaya yang orangtuanya mampu membelikan mereka tiket? Tentu tidak.  Di UI, sebagian mahasiswa kami adalah anak PNS, bahkan tidak jarang mereka anak petani dan nelayan.  Tetapi mereka tak mau kalah dengan TKW yang meski tak sepandai mereka, kini sudah pandai berbahasa asing. Anak-anak yang ditugaskan ke luar negeri secara mandiri ternyata memiliki daya inovasi dan inisiatif yang tumbuh.  Rasa percaya diri mereka bangkit. Sekembalinya dari luar negeri mereka membawa segudang pengalaman, cerita,gambar dan foto yang ternyata sangat membentuk visi mereka.

Saya pikir ada baiknya para guru mulai membiasakan anak didiknya memiliki passportPassport adalah tiket untuk melihat dunia, dan berawal dari passport pulalah seorang santri dari Jawa Timur menjadi pengusaha di luar negeri.  Di Italy saya bertemu Dewi Francesca, perempuan asal Bali yang memiliki kafe yang indah di Rocca di Papa. Dan karena passport pulalah, Yohannes Surya mendapat bea siswa di Amerika Serikat.  Ayo, jangan kalah dengan Gayus Tambunan atau Nazaruddin yang baru punya pasport dari uang negara.

Rhenald Kasali
Guru Besar Universitas Indonesia

Incoming search terms:

Bosan dengan model busana muslim yang biasa? Temukan Busana Muslim unik dan elegan di www.butikaini.com
Tags:
posted by nuren in Motivasi and have No Comments

SEO Powered By SEOPressor